#IniUntukKita – Tangan Angie UMKM dari Banyuwangi Berdikari
Siapa sangka bagiku New Normal, New Blessings.
Gak sedikit orang mengutuki tahun 2020, karena merasa tidak nyaman dengan
kondisi yang ada. September 2019, sebelum aku memulai sebuah perjalanan baru sebagai
wisudawan. Aku punya rencana, 2020 menyiapkan
keuangan 30% dari pemasukan untuk pengembangan diri dengan ikut seminar entrepreneurship, aku penasaran gimana sih bangun brand, legacy, dan branding?
Aku juga sudah siap-siap uang transportasi antara ke Bali,
Surabaya, Jogjakarta atau Jakarta, karena umumnya seminar berada di ke empat
daerah itu. Eh.... hingga akhirnya saat tulisan ini dipublikasi di bulan September
2020 aku sudah melewati banyak perjalanan “gratis” ke banyak seminar secara daring
melalui webinar-webinar karena anugerah pandemi ini. Bagiku pandemi ini
bukanlah sebuah musibah, tetapi anugerah. Mengapa? Simak ceritaku dan
persepsiku berikut ini.
Webinar gratis yang
diadakan oleh banyak platform menjadi kesempatan yang baik untuk aku belajar
dan sekaligus membangun brand “Tangan Angie” a.k.a Tangie dengan lebih mudah. Aku
bilang mudah karena lebih murah dalam mendapat ilmu semenjak pandemi ini.
Banyak akses webinar yang dibuka secara gratis dan terbuka untuk umum.
Pengalaman tersebut jadi kesempatan aku untuk mengembangkan brand tangie.
Tangie adalah brand yang aku bangun sejak 7 bulan lalu dengan modal online. Tidak sedikit orang
merasa sulit mengungkapkan cinta. Sebagian orang mengaku merasa gak mudah
mengucap kata-kata cinta dengan seseorang yang dikasihi. Itulah alasan kehadiran Tangan Angie ada. Tangie percaya meski bibir sulit mengucap, namun
masih ada raga yang bisa menggambarkan sejuta rasa. Seringkali orang memendam
rasa. Kata-kata bisa dianggap rayuan gombal. Jika ingin memberikan hadiah atau
membelikan sesuatu yang special juga ada tantangan: budget,sentuhan personal,
dan jaminan ramah lingkungan. Beberapa
tantangan tersebut mendorong tangie lahir akhir Desember 2019,
bergabung di shopee 6 bulan yang lalu dan mulai menemani banyak orang dengan tetap bertahan di pandemi ini bersama partner lulusan SMA
untuk melayani para kawan tangie yang kesulitan bikin kado yang ramah
lingkungan. Tangie
yang berada di ujung timur alias di Banyuwangi ini sudah mengirim ke 22
kota di antara Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, & Papua.
Pandemi ini membuat remote
working secara maksimal berjalan, meski SDM tangie dari desa dan lulusan
SMA. Dalam masa pandemi ini, budaya baru dalam koordinasi antara aku dan team
operasional dan marketing, dan sebagainya bisa terjadi hanya lewat smartphone. Mengakses pekerjaan team dan mengatur team
justru menjadi lebih tersistem bagi UMKM tangie yang masih bayi. Berbekal
pengetahuan dari Youtube dan Google dengan bercampur kekuatan dari visi yang kami
bangun dalam teamwork, menjadi energi terbesar untuk team tangie percaya dan konsisten
mengerjakan bagian dalam menolong orang untuk mengekspresikan cinta lewat eco
apparel yang tangie produksi. Partner
lulusan SMA sengaja tangie berdayakan karena sebuah alasan yang tengah berkembang
menjadi impian tangie sekarang. Sejak
bertambahnya tim dari lulusan SMA ini, tangie terpanggil untuk membangun harapan bersama mereka. Impian itu adalah membangun
terobosan mengurangi kemiskinan dengan memberdayakan lulusan SMA/K yang
pengangguran di Indonesia (dimulai dari Bangorejo, basis online tangie). Tangie rindu untuk membangun dan memperkuat komunitas di daerah tersebut. Tangie melihat bahwa tidak banyak dari
lulusan SMA di daerah Bangorejo melek digital di era industri 4.0. Sehingga sebagai pelaku usaha dalam era digitalisasi yang melek empati, dan dalam upaya peningkatan
jangkauan pasar, menggandeng lulusan SMA bukan untuk tujuan memperbudak mereka. Tangie ingin
memperkuat mereka untuk kesejahteraan komunitas lokal. Karena Tangie percaya bahwa kunci kepuasan
pelanggan adalah pengaruh yang dibawa oleh seorang pemimpin dalam usaha ini
yang berorentasi pada kesejahteraan tim, dan pengembangan masyarakat sekitar.
Bagi sebagian orang membangun brand slow fashion saat pandemi dengan modal yang
terbatas ini adalah sebuah kepayahan. Tetapi visi membuatku bertahan pada
kelelahan, kesulitan, atau bahkan mungkin bagi sebagai orang kemustahilan. Karena aku percaya bahwa membangun brand yang berkelanjutan memang perlu dimulai sekarang tanpa ditunda besok-besok
jika sudah matang dan tajam saja, tetapi perlu dengan segudang percobaan dan
tahapan, meski dalam badai masalah. Karena untuk membuktikan seberapa tajam
brand itu justru ditemukan saat dalam masalah dan bagaimana brand tersebut dapat bangkit menyelesaikan masalah. Tangie
untuk kita. #IniUntukKita
“Manusia yang suka jalan pintas, tak akan pernah
mencicipi denyut kehidupan. Manusia yang terburu-buru dengan hasil tidak
mempunyai waktu untuk mengidentifikasi masalah dan berpikir secara strategis!
Orang biasa, asal bersabar dengan prosesnya bisa jadi luar biasa.” – Putri Angie